Rabu, 30 April 2008

Untukmu IBU

Waktu adzan Maghrib, tepatnya tanggal 05 Juni 1984 Bunda berpeluh, mengejan hebat, dan tersenyum diantara hidup dan matinya. Sebuah pengorbanan yang cukup sia-sia kalau saja Bunda tau keadaanku yang sekarang (bandel buanget hahahaha..), tapi entah kenapa di lubuk hatiku yang paling dalam, aku punya keyakinan yang amat sangat bahwasanya bunda tak akan pernah menyesali itu semua walaupun seandainya aku sekarang menjadi seorang penjahat/bandit/buronan (allhamdulillah gak sampe kayak gitu hehehe..)

Peluh yang tak henti mengalir dan nafas yang tak henti ngos-ngosan akhirnya berubah menjadi kenikmatan yang amat sangat luar biasa ketika bunda melihat sosok mungil bernama YUSRIZAL HELMI. Sesaat setelah itu terdengar lafadz adzan ditelingaku, sebuah ritual yang sampai sekarang aku tak pernah mengerti maksudnya.

Sosok mungil itu kini hanya bisa mengenang Dia, hanya bisa memeluk dalam mimpi di tidurnya… Bunda tlah tiada…

Betapa lucunya dulu saat Bunda meninggal, aku emang menangis, tapi lucunya aku menangis hanya karena tak ada lagi yang menemaniku jalan-jalan ke kota, ngajak aku nonton “kabayan” dan “om pasikom” hehehe… maklum Bunda tuh penggemar berat Om Didi Petet.
Sampai sekarang pun, aku juga masih menangis jika kangen ma Bunda (hehehe.. cengeng ya..) pergi ke kuburan Bunda adalah satu-satunya cara untuk menebus rasa kangen itu.

Sebuah pesan bunda 2 hari menjelang ajal menjemputnya, yang paling ku ingat adalah:
“suatu saat jika Rizal punya bunda yang baru lagi, Rizal harus sayang dan hormati dia. karena Rizal adalah seorang laki-laki, seorang yang harus hormat dan sayang pada wanita”
Dan dengan amat sangat polosnya aku menjawab:
“siap bos!!”
Untungnya aku menjawab dengan senyum. Pasti bunda lega banget liat jawabanku yang spontan seperti itu.