Minggu, 25 Mei 2008

Merdeka atau?

Lambat laun jalanan semakin ramai dengan hiruk pikuk kemerdekaan, atribut-atribut perjuangan kembali terpasang, sang saka merah putih mulai tercecer menunggu si tuan yang ingin meramaikan hari yang kini sudah semakin tidak lagi sacral. Hanya kewajiban atau juga malah sebagai rutinitas?

Bicara tentang semangat perjuangan dan kemerdekaan untuk sebuah negara Indonesia untuk saat ini sudah usang! Masyarakat lebih disibukkan dengan rentetan iklan di media… sehingga untuk berbicara tentang negara Indonesia serasa tak mungkin. Semangat perjuangan yang diusung saat ini adalah semangat untuk tetap bisa hidup, anak-anak bisa sekolah, dan bagaimana kita memperjuangkan masa depan kita sendiri bukan negara kita. Semangat kemerdekaan harus dipertanyakan lagi lebih spesifik dan jawaban akhirnya pasti bukan semangat kemerdekaan untuk sebuah negara melainkan semangat kemerdekaan dalam mendapatkan hak-hak, kemerdekaan dalam berbicara atau lebih tepatnya Orasi di depan khalayak, dll.

Salah? Tidak! Benar? boleh! Entah semangat yang mana yang harus kita utamakan. Disatu sisi negara sedang membutuhkan orang-orang yang berjiwa nasionalis murni, disatu sisi kita dituntut untuk tetap bertahan hidup demi kelangsungan hidup anak-anak.

Ketika bendera terbentang didepan teras rumah, halaman kantor-kantor, dan pusat kota

“apa yang bisa kita rasakan?”

tak lain dan tak bukan hanyalah sebuah hiruk pikuk dan rutinitas yang akan terbuang di tong sampah dan terlipat rapi di dalam laci.

Tidak ada komentar: